Sekarang, dunia telah mengalami percepatan. Manusia telah disibukkan oleh urusan dunia yang membawanya pada percepatan. Ketika kita mencoba berhenti sejenak, taruh kata cuti, mudik pulang kampung ke Jawa misalnya, kita akan tercengang cengang dengan realita yang begitu cepat.” Oh….mbah itu sudah meninggal , oh……temanmu yang sering ke rumah sini juga sudah meninggal. Oh….si Anu sudah punya anak lagi. Oh…Si dia sudah menikah.. Si Itu sudah pensiun dari pabrik tebu,….. dan segudang kecengangan yang kita dengar dan kita temui.
Semestinya kita merenungi, ada apa di balik percepatan dunia ini..?
Penghantaran waktu yang mestinya harus dititi dengan untaian perjalanan yang bermakna, karena detik per detik menjanjikan keuntungan bila kita kelola dengan baik, sepertinya hanyut dalam nuansa perlombaan, “…
Tanpa disadari bahwa detik perdetik yang kita kumpulkan bila kita sebandingkan dengan rentetan angka di ATM, tak sebanding dengan harga waktu saat kita uangkan di akhirat.
Mari kita berandai andai untuk melancong ke akhirat. Tempat pelancongan yang sudah mulai di tempuh oleh mbah mbah saya.
Taruhlah di tempat pelancongan itu kita berpesiar 1 juta tahun, kita disuruh cari bekal di dunia 60 tahun, kalau satu hari di pelancongan kita pakai bekal satu hari di dunia, setelah 60 tahun habis bekal.
Bila dipaksa 60 tahun dunia ini untuk keperluan 1 juta tahun dalam pelancongan, maka betapa mahalnya waktu dunia ini.
Bila ternyata di pelancongan tidak hanya 1 juta tahun tapi “abadi” atau selamanya, apa yang bisa dikatakan untuk mengganti kata mahal di dunia ini. Mungkin saking mahalnya, maka waktu di dunia ini tidak bisa di beli. begitu kira kira.
Jadi karena tak bisa dibeli, akan kah kita telantarkan tanpa makna.
Satu detik di dunia akan kita rasakan mahalnya ketika kita berada di pelancongan akhirat.
Pergulatan waktu, pergulatan emosi, pergulatan kepentingan, pergulatan tangis dan tawa setiap saat berkecamuk di kehidupan kita, tetapi kita akan terkagum kagum pada Sang Pencipta ketika kita bisa memandang Hikmah yang Dia selipkan di sebaliknya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar